Senin, 24 Januari 2011


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgOwohJj331RJHLutu1LSbp5xBMyfqoVMRUZ3WfalmkumJGRsxXS9DQm_AX8UV0I3cVxK_Bz4hRQ_z4UPKc5BZquKCNjAjCLl0P2AMPwNktmAyx69mSAob8Fx71qtjkaIpHOfq8KrU8v8g/s400/Outlet1.jpg


Bila kita melihat Channel (saluran/gerai) penjualan minuman di Indonesia, mungkin kita membaginya ke dalam 3 kategori besar, yaitu tradisional trade, modern trade dan on premise. Traditional trade meliputi penjualan di gerai gerai tradisional seperti PK 5, asongan toko P&D dan sebagainya. Sementara itu Modern trade diwakili oleh penjualan di gerai gerai modern seperti mini market, supermarket ataupun hypermarket. Sedangkan On Premise, merupakan segala bentuk penjualan di tempat tempat tertentu seperti hotel, restoran, cafe, tempat rekreasi dsb.

Sebagai negara berkembang, tentunya jumlah outlet tradisional masih menempati posisi pertama, lalu diikuti oleh channel modern dan tentunya baru oleh premise. Namun saat ini pertumbuhan penjualan di modern trade dan On premise sedemikian pesatnya, sejalan dengan terus berkembangnya kedua channel ini dari waktu ke waktu. Kita dapat melihat disekeliling kita betapa menjamurnya gerai gerai mini market seperti indomaret dan alfa maret di lingkungan kita. Dalam satu kompleks perumahan, kita dapat menemukan beberapa gerai tersebut dalam jarak yang tidak terlalu berjauhan. Demikian juga dengan Channel On Premise, kita juga dapat melihat munculnya banyak gerai resto baru, baik franchise yang bersifat lokal, seperti klenger burger, bakmi gajah mada, maupun franchise international seperti Kentucky Fried Chicken ataupun McDonalds di sekeliling kita.


Big Cola Siap Saingi Coca Cola
JAKARTA--MICOM:

Minuman berkarbonasi Big Cola siap melakukan ekspansi di pasar
minuman ringan Indonesia. Sejak 15 November 2010, minuman yang diproduksi di Indonesia itu mulai dipasarkan di 4.600 toko ritel Indomaret yang tersebar di Jawa dan Sumatra. Menurut Presiden Direktur PT AJE Indonesia Charliy Canales di Jakarta, Selasa (9/11), pasar minuman berkarbonasi di Indonesia masih berpotensi untuk terus bertumbuh ke depan.

"Jumlah penduduk yang sampai 230 juta orang jelas menjadikan Indonesia sebagai pasar yang sangat menjanjikan," ujarnya. Menurut Charliy, saat ini tingkat konsumsi masyarakat Indonesia untuk produk minuman berkarbonasi jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan negara tetangga. Sebagai gambaran, di Thailand dan Vietnam, persentase konsumsi minuman berkarbonasi di pasar minuman secara keseluruhan mencapai 30%-40%. Sementara di Indonesia hanya sebesar 4%. Di pasar yang masih sangat kecil itu, produk Coca-Cola masih sangat mendominasi pasar yakni 96%.

"Konsumsi yang rendah ini menjadi peluang yang sangat menjanjikan. Kita masuk bukan untuk merebut kue dari kompetitor, tapi menciptakan pasar baru dengan memberikan tambahan pilihan produk bagi konsumen," ujarnya. Menurut Charliy, ada beberapa strategi kunci utama AJE agar produk baru ini untuk dapat diterima pasar Indonesia yang dinilai memiliki ciri tersendiri. Di antaranya produk yang ditawarkan memiliki volume lebih banyak di antara kompetitor, namun dengan harga yang lebih terjangkau. Harga yang lebih rendah ini, didapat AJE dengan minimimalisasi segala biaya produksi, utamanya biaya kemasan produk. Di Indonesia, saat ini Big Cola baru diproduksi dalam kemasan botol plastik dan menggunakan packaging

"Dengan harga yang murah namun tetap dengan jaminan kualitas produk, kita ingin lebih jadikan minuman karbonasi jadi bagian dari gaya hidup masyarakat Indonesia. Dari penelitian, masyarakat Indonesia hanya konsumsi minuman karbonasi dalam selebrasi," ujar Charliy. Indonesia, lanjut Marketing Manager PT AJE Indonesia Agit Atrianto, merupakan satu dari tiga negara di Asia Tenggara yang dimasuki Big Cola. Thailand menjadi negara pertama Asia Tenggara yang dimasuki pada tahun 2005. Selama lima tahun ini, pangsa pasar Big Cola untuk
minuman berkarbonasi di Thailand sudah mencapai 12-15%. Setelah Thailand, menyusul kemudian Indonesia sejak akhir Agustus 2010 dan Vietnam sebulan setelahnya. Saat ini, AJE memiliki satu pabrik produksi di Cikarang dengan kapasitas produksi 576.000 - 1,72 juta unit per hari. Selama tiga bulan ini, Big Cola melakukan tes pasar di Indonesia baru dengan memasuki pasar-pasar tradisional. (OL-9)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar